- Home
- Dumai
- Perkuat Pengasuhan 1.000 HPK, Pemko Dumai dan Tanoto Foundation Dorong Generasi Bebas Stunting
Selasa, 08 September 2026 10:29:00
Perkuat Pengasuhan 1.000 HPK, Pemko Dumai dan Tanoto Foundation Dorong Generasi Bebas Stunting
DUMAI – Mencegah stunting tidak dimulai ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan. Upaya pencegahan justru harus dimulai jauh lebih awal, bahkan sejak masa kehamilan dan periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK).
Kesadaran inilah yang terus didorong Pemerintah Kota (Pemko) Dumai bersama Tanoto Foundation melalui penguatan pengasuhan dan stimulasi dini sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Workshop Pengasuhan dan Stimulasi Dini secara hybrid yang digelar di Gedung Sri Bunga Tanjung, Kota Dumai, Selasa (8/9/2026).
Mengusung tema “Memperkuat Pengasuhan dan Stimulasi Dini pada 1000 HPK sebagai Fondasi SDM Unggul Kota Dumai Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, hingga sektor swasta dan lembaga filantropi.
Stunting masih menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan kesehatan. Salah satu kondisi yang perlu mendapatkan perhatian dalam pencegahannya adalah kesehatan ibu hamil, termasuk Kekurangan Energi Kronis (KEK).
Data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut mencatat terdapat 239.000 ibu hamil dengan kondisi KEK. Kondisi tersebut menjadi perhatian untuk memperkuat intervensi dan kolaborasi dalam memastikan ibu dan anak memperoleh dukungan kesehatan serta gizi yang memadai sejak awal kehidupan.
Pengasuhan Jadi Fondasi Generasi Masa Depan
Workshop dibuka secara resmi oleh Wali Kota Dumai yang diwakili Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setdako Dumai, Muhammad Yunus.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Tanoto Foundation yang telah memberikan dukungan terhadap program tumbuh kembang anak di Kota Dumai.
Menurutnya, pengembangan anak usia dini merupakan investasi penting dalam mempersiapkan generasi penerus menuju Indonesia Emas 2045.
“Pengembangan anak usia dini merupakan isu prioritas strategis yang membutuhkan dorongan dari semua pihak. Melalui workshop ini, kita berharap lahir inovasi dan kreativitas yang dapat dibagikan kepada masyarakat untuk mewujudkan generasi emas di Kota Dumai,” ujar Yunus.
Sementara itu, Regional Lead Tanoto Foundation, Dendi Satria Utama, mengatakan dukungan tersebut diberikan berdasarkan asesmen awal yang menunjukkan adanya komitmen Pemko Dumai dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029.
Menurutnya, komitmen tersebut perlu diperkuat melalui peningkatan kapasitas lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sekaligus penyelarasan regulasi daerah dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA).
“Terdapat 31.187 anak usia dini di Kota Dumai. Jika seluruhnya difasilitasi dengan pengasuhan dan stimulasi yang optimal, Kota Dumai akan memetik manfaat besar dari bonus demografi di masa depan,” jelas Dendi.
Data dan Kebijakan Jadi Dasar Intervensi
Kepala Bappeda Kota Dumai, Budhi Hasnul, mengatakan workshop tidak hanya menjadi ruang untuk meningkatkan pemahaman lintas sektor mengenai pengasuhan dan stimulasi dini, tetapi juga membuka peluang lahirnya inovasi kebijakan di daerah.
“Melalui kegiatan ini kita dapat mengumpulkan data serta informasi komprehensif terkait Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI),” papar Budhi.
Penguatan PAUD Holistik Integratif dinilai penting karena tumbuh kembang anak tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, dan aspek lain yang saling berkaitan.
Dalam sesi talk show, sejumlah narasumber turut memberikan perspektif mengenai pengembangan anak usia dini dan penguatan kebijakan daerah. Narasumber berasal dari Kementerian Dalam Negeri, Bunda PAUD Kota Dumai, Tim Ahli dari Pusat Kajian SDGs UIR, serta Tanoto Foundation.
Pernikahan Dini Jadi Perhatian
Bunda PAUD Kota Dumai, Hj. Leni Ramaini, turut menyoroti persoalan pernikahan dini yang menurutnya perlu menjadi perhatian dalam upaya pencegahan stunting dan gangguan tumbuh kembang anak.
“Kita masih mendapati masih ada pernikahan dini. Ada di antaranya menikah di bawah tangan dalam kondisi hamil. Praktik tersebut masih ada di sejumlah kecamatan, terutama kecamatan pinggiran Kota Dumai. Pernikahan bukan di usia nikah menjadi penyumbang lahirnya anak stunting,” ungkap Leni.
Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan perhatian dan penanganan bersama melalui edukasi, pendampingan keluarga, serta penguatan peran berbagai pihak yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Kolaborasi Lintas Sektor Diperkuat
Workshop tersebut diikuti berbagai unsur yang memiliki peran dalam pembangunan kesehatan dan pengembangan anak usia dini.
Hadir di antaranya perwakilan Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Pendidikan, serta Kementerian Agama Kota Dumai.
Peserta juga melibatkan jajaran Bunda PAUD dan TP-PKK tingkat kecamatan dan kelurahan, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), organisasi profesi kesehatan seperti IDAI, IBI dan PERSAGI, mitra PAUD yang terdiri dari HIMPAUDI, IGTK, IGRA, PP PAUD dan Pokja PAUD, KUA, hingga seluruh kepala puskesmas se-Kota Dumai.
Keterlibatan lintas sektor tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting dan penguatan tumbuh kembang anak membutuhkan kerja bersama. Intervensi tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus terhubung mulai dari keluarga, layanan kesehatan, pendidikan anak usia dini, hingga kebijakan pemerintah daerah.
Sebagai tindak lanjut, workshop tersebut ditargetkan menghasilkan asistensi teknis penyusunan pokok pikiran serta pemuatan Draft Rancangan Peraturan Wali Kota (Ranperwako) yang dijadwalkan berlangsung pada September hingga Oktober 2026.
Langkah tersebut memperkuat komitmen Pemko Dumai dalam penanganan stunting. Sebelumnya, Wali Kota Dumai telah menerbitkan Surat Keputusan Wali Kota Dumai Nomor 322/DPPKB/2025 tentang Pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting di Kota Dumai.
Dengan penguatan regulasi, peningkatan kapasitas, edukasi keluarga, serta kolaborasi lintas sektor, upaya pencegahan stunting diharapkan semakin terarah dan berkelanjutan.
Sebab, investasi terbesar dalam pembangunan bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memastikan setiap anak memperoleh kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal sejak awal kehidupannya.
Tim Inovasi PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai Raih Predikat Excellent pada Lomba Inovasi IQPC di Bangkok
Dinkes Dumai Ajak Warga Tak Tunggu Sakit untuk Cek Kesehatan
Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Upaya Pencegahan Stunting di Dumai Barat






