• Home
  • Media Outreach
  • Serangan Amplifikasi Melonjak Tinggi dalam K4, Menurut Penelitian Nexusguard
Selasa, 20 Maret 2018 15:01:00

Serangan Amplifikasi Melonjak Tinggi dalam K4, Menurut Penelitian Nexusguard

Lebih dari setengah jumlah serangan menggunakan multi vektor

SAN FRANCISCO - Media OutReach - 20 Maret 2018 - Serangan Distributed denial of service (DDoS) dengan menggunakan amplifikasi domain name server (DNS) meningkat tinggi lebih daripada 357 persen dalam kuartal keempat tahun 2017, berbanding periode yang sama di tahun 2016, menurut's "Laporan Kuartal 4 Tahun 2017" yang diterbitkan oleh Nexusguard. Laporan per kuartal ini mengambil sampel ribuan serangan yang ada di seluruh dunia dan menyimpulkan bahwa peningkatan tersebut banyak terjadi pada server dengan fitur Domain Name System Security Extensions (DNSSEC) yang diaktifkan. Fitur ini apabila tidak dikonfigurasi dengan benar berpotensi menimbulkan risiko baru. Walaupun fitur tersebut didesain untuk meningkatkan integritas dan keamanan protokol DNS, server dengan fitur DNSSEC dapat menjadi target yang empuk untuk serangan amplifikasi oleh karena jumlah respon yang dihasilkan sangat besar.

Laporan per kuartal mengenai distributed denial of service (DDoS) dari Nexusguard diterbitkan berdasarkan data real-time ancaman yang membahayakan perusahaan dan jaringan penyedia layanan di seluruh dunia. Nexusguard mengumpulkan data dari pemindaian botnet, Honeypots, penyedia layanan internet atau Internet Service Provider (ISP) dan lalu lintas antara peretas dan target. Dengan laporan ini, Nexusguard berkomitmen untuk membantu para perusahaan melihat titik-titik kelemahannya dan mendapatkan informasi terbaru akan trend serangan global. Walaupun jumlah serangan DDoS secara keseluruhan menurun sebanyak 12 persen berbanding periode yang sama tahun lalu, Nexusguard melaporkan jenis botnet baru yang lebih tangguh melalui penggunaan luas fitur DNSSEC. Nexusguard telah mengingatkan timnya untuk tetap memantau respon DNSSEC dan kelemahan yang ada untuk membantu sistem komputer menghadapi serangan yang timbul di masa depan.

"Setiap perusahaan berusaha semaksimal mungkin dalam menghadapi kemungkinan berbagai serangan peretasan seperti snooping, hijacking dan penyalahgunaan DNS; akan tetapi, nameserver dengan fitur DNSSEC yang tidak dikonfigurasi dengan benar adalah ancaman baru bagi tim yang sama sekali tidak siap," ujar Juniman Kasman, Chief Technology Officer Nexusguard. "Para administrator dan tim TI harus memperhatikan dengan seksama keamanan jaringannya dan memastikan konfigurasi DNSSEC yang benar pada domain agar server mereka tidak rentan terhadap serangan yang muncul."

Para peretas juga terus menggunakan serangan multi vektor, dengan memadukan network time protocol (NTP), universal datagram protocol (UDP), DNS dan vektor serangan lain yang cukup dikenal dalam lebih dari setengah botnet yang dipantau dalam beberapa tahun terakhir, menurut infografis "Lanskap Serangan DDoS 2017" dari Nexusguard. RRC dan AS masih tetap berada pada tingkat teratas sebagai dua sumber utama serangan DDoS dalam K4, dengan jumlah serangan masing-masing 21,8 persen dan 14,3 persen dari seluruh jumlah serangan yang dipantau. Adapun Korea Selatan berada pada peringkat ketiga, dengan jumlah serangan sebanyak enam persen dari seluruh serangan global, melompat dari peringkat keenam dalam kuartal terakhir. Baca "Laporan Kuartal 4 Tahun 2017" untuk keterangan lebih lanjut.

Mengenai Nexusguard

Berdiri pada tahun 2008, Nexusguard adalah sebuah perusahaan terkemuka di dunia dalam melawan serangan-serangan siber melalui Internet. Nexusguard melindungi para konsumen dari berbagai ancaman siber, termasuk serangan distributed denial of service (DDoS), agar sistem Internet tidak terganggu. Nexusguard menyediakan solusi lengkap yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan untuk semua konsumen, dari semua industri termasuk solusi anti DDoS untuk perusahaan penyedia layanan. Nexusguard berkomitmen memberikan Anda ketenangan pikiran dengan menekan jumlah serangan dan meningkatkan uptime. Kunjungi www.nexusguard.com untuk informasi lebih lanjut.

Share
Berita Terkait
  • satu bulan lalu

    JSCCIB Joins Forces with Public Sector and World Bank to Launch "The Bangkok Business Summit 2026: Reinvent Thailand, Resilient ASEAN"

    This event serves as a milestone paving the way toward the IMF-World Bank Group Annual Meetings 2026, which Thailand will proudly host in Bangkok in October 2026, as well as Thaila
  • 2 bulan lalu

    Memperluas Cakrawala: Mahasiswa Asal Uzbekistan, Dulatkhan, Meniti Masa Depan di CUHK

    Dulatkhan aktif menjalani kehidupan kampus dengan mengikuti kompetisi bola voli antarkolese dan judo, sekaligus menikmati keindahan alam Hong Kong melalui kegiatan mendaki. Semanga
  • 2 bulan lalu

    Aon Menunjuk Stephen sebagai CEO untuk Indonesia

    Stephen memiliki pengalaman internasional selama lebih dari dua dekade di bidang asuransi, underwriting, dan penetapan tarif, yang diperoleh melalui berbagai peran yang dijalaninya
  • 2 bulan lalu

    Sentosa GrillFest 2026 Returns with Its Largest Line-Up Yet: 42 Food Vendors, First-Ever Omakase-Inspired Beachfront Dining and Returning Crowd Favourites

    SDC wholly owns its subsidiaries Sentosa Cove Resort Management Pte Ltd and Sentosa Golf Club. SDC also owns the Singapore Cable Car Sky Network, managed by Mount Faber Leisure Gro
  • Komentar
    Copyright © 2026 . All Rights Reserved.