Rabu, 14 Oktober 2026 12:42:00
Di Balik Jeruji, Warga Binaan Rutan Dumai Merajut Harapan Lewat Al-Qur’an
DUMAI – Di antara dinding yang membatasi ruang gerak, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari Masjid Al-Maghfirah Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Dumai. Sejumlah warga binaan duduk berdekatan, menundukkan pandangan pada mushaf yang terbuka di hadapan mereka. Ada yang membaca dengan lancar, ada pula yang masih mengeja huruf demi huruf, berusaha melafalkan ayat dengan benar.
Bagi mereka, belajar mengaji bukan sekadar mengisi waktu selama menjalani masa pidana. Di balik setiap huruf yang dibaca, tersimpan harapan untuk memperbaiki diri, menata hati, dan menemukan kembali arah kehidupan yang lebih baik.
Di Masjid Al-Maghfirah, proses belajar berlangsung dalam suasana sederhana dan penuh kebersamaan. Warga binaan yang telah lebih dahulu menguasai bacaan Al-Qur’an turut membantu rekan-rekannya yang masih belajar. Ketika ada bacaan yang keliru, mereka saling mengingatkan. Ketika ada yang belum memahami pelafalan, mereka mencoba membimbing dengan sabar.
Tidak ada sekat antara mereka yang sudah mahir dan yang baru belajar. Semua duduk bersama, membuka lembaran demi lembaran Al-Qur’an, berusaha memahami dan memperbaiki bacaan masing-masing. Dari kebersamaan itu, tumbuh semangat untuk saling menguatkan dalam menjalani hari-hari di balik jeruji besi.
Bagi sebagian warga binaan, kesempatan belajar agama menjadi ruang untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus melakukan introspeksi atas perjalanan hidup yang telah dilalui. Masa pidana tidak hanya menjadi waktu untuk menjalani konsekuensi atas perbuatan masa lalu, tetapi juga kesempatan untuk menumbuhkan kesadaran dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah bebas nanti.
Melalui pembinaan keagamaan ini, Rutan Kelas IIB Dumai berupaya menghadirkan lingkungan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan masa pidana, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan perilaku warga binaan. Pembelajaran Al-Qur’an menjadi salah satu sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, memperkuat keimanan, serta membangun kesadaran untuk menjalani kehidupan yang lebih positif.
Sebab, perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, ia tumbuh perlahan dari kesediaan mengakui kekurangan, kemauan untuk belajar, dan keberanian memperbaiki diri. Satu ayat yang dipelajari hari ini bisa menjadi awal dari tumbuhnya harapan untuk hari esok.
Dari Masjid Al-Maghfirah, harapan itu terus dirawat. Di tengah keterbatasan ruang dan waktu, warga binaan belajar bahwa masa lalu tidak harus menentukan seluruh perjalanan hidup mereka. Masih ada kesempatan untuk berubah, memperbaiki diri, dan kembali ke tengah masyarakat dengan membawa bekal keimanan serta tekad menjalani kehidupan yang lebih baik.
Pada akhirnya, keberhasilan pembinaan bukan semata tentang berakhirnya masa pidana, melainkan juga tentang tumbuhnya kesadaran untuk tidak mengulangi kesalahan dan kesiapan membuka lembaran baru. Melalui lantunan ayat suci yang terus dipelajari, warga binaan Rutan Dumai menapaki proses itu, satu bacaan, satu pelajaran, dan satu harapan pada satu waktu.**
Share
Komentar






