• Home
  • Maritim
  • Harapan yang Tumbuh di Balik Tumpukan Kulit Udang
Minggu, 25 Oktober 2026 20:43:00

Harapan yang Tumbuh di Balik Tumpukan Kulit Udang

Syahrizal saat memaparkan dan memamerkan produk hasil olahan kepada Media visit kilang Dumai 10 Oktober 2026 lalu.
  • Oleh: Megi Alfajrin

Di pesisir Pekan Labuhan, Kota Medan, Sumatera Utara, kulit udang menjadi pemandangan yang tak asing bagi warga yang menggantungkan hidup dari hasil laut. Setiap hari, aktivitas mengupas udang berlangsung untuk memenuhi kebutuhan pasar sekaligus menjaga roda ekonomi keluarga tetap berputar. Namun, di balik pekerjaan yang menjadi sumber penghidupan itu, tersimpan persoalan yang tak kalah besar, yakni limbah kulit udang yang terus menumpuk dan mengancam kebersihan lingkungan pesisir.

Sekitar satu ton kulit udang terbuang setiap bulan. Limbah tersebut menimbulkan bau tidak sedap dan mencemari perairan di sekitar permukiman. Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan laut, persoalan ini bukan sekadar urusan sampah. Kebersihan lingkungan, kenyamanan tempat tinggal, dan keberlanjutan sumber penghidupan mereka turut dipertaruhkan.

Pada saat yang sama, kehidupan ekonomi warga pesisir tidak selalu berjalan pasti. Pendapatan nelayan dan pekerja pengupas udang sangat dipengaruhi musim, kondisi laut, serta ketersediaan pekerjaan. Ketika penghasilan bergantung pada keadaan alam yang sulit diprediksi, kebutuhan untuk menemukan sumber ekonomi alternatif menjadi semakin penting.

Di tengah situasi itulah Syahrizal, seorang pemuda setempat, melihat sesuatu yang berbeda dari tumpukan kulit udang yang selama ini dianggap sebagai sisa produksi. Baginya, limbah tersebut bukan semata-mata sesuatu yang harus dibuang, melainkan bahan yang masih mungkin diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Pikiran itu kemudian tumbuh menjadi sebuah ikhtiar. Bersama sembilan rekannya, Syahrizal membentuk kelompok PEMANAH, singkatan dari Pekerja Mandiri Amanah. Mereka mulai merintis pengolahan kulit udang menjadi produk yang berpotensi mendukung kegiatan budidaya perikanan, seperti pelet untuk pakan ikan.

Sejak 2024 hingga 2025, kelompok ini mencoba berbagai cara untuk mengubah limbah menjadi peluang. Mereka bereksperimen membuat bahan pakan ikan hingga pelet ikan. Berbekal informasi yang dipelajari melalui media sosial, mereka merintis usaha tersebut dengan pengetahuan yang masih terbatas dan peralatan seadanya.

Tidak ada jalan pintas dalam proses itu. Mereka harus belajar memahami karakter bahan baku, mencoba teknik pengolahan, dan mencari cara agar produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan. Keterbatasan peralatan, akses pengetahuan, dan jaringan pemasaran menjadi tantangan yang tidak mudah diatasi oleh kelompok yang baru merintis usaha.

Semangat saja ternyata belum cukup. Untuk berkembang, mereka membutuhkan dukungan berupa peralatan yang memadai, pendampingan, serta pengetahuan yang dapat membantu meningkatkan kemampuan produksi. Tanpa itu semua, gagasan yang semula menjanjikan berisiko berhenti sebagai percobaan kecil yang sulit berkembang.

Namun, Syahrizal dan rekan-rekannya tidak serta-merta meninggalkan usaha tersebut. Mereka terus berupaya mencari jalan agar kulit udang yang tersedia di lingkungan sekitar dapat memberikan manfaat lebih besar. Di balik keterbatasan itu, mereka mempertahankan keyakinan bahwa persoalan yang selama ini membebani lingkungan justru bisa menjadi awal bagi tumbuhnya usaha masyarakat.

Titik balik mulai terbuka pada pertengahan 2025, ketika PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Medan hadir melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL). Melihat potensi pengolahan limbah sekaligus peluang pemberdayaan masyarakat, perusahaan mengembangkan Program PELARI atau Pekan Labuhan Bestari kepada Syahrizal dan kelompok masyarakat sekitar.

Kehadiran program tersebut menjadi dorongan bagi kelompok PEMANAH untuk melanjutkan dan mengembangkan usaha yang telah mereka rintis. Dukungan berupa peralatan memadai dan pelatihan membantu menjawab sebagian kebutuhan yang sebelumnya sulit mereka penuhi secara mandiri.

Bagi PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Medan, pendampingan tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong masyarakat agar mampu mengembangkan potensi yang ada di lingkungan mereka sendiri.

“Melalui Program PELARI, kami ingin mendorong masyarakat agar mampu melihat potensi dari persoalan yang ada di lingkungan mereka sendiri. Kulit udang yang sebelumnya menjadi limbah memiliki peluang untuk diolah menjadi produk bernilai guna. Karena itu, kami tidak hanya memberikan dukungan peralatan, tetapi juga mendorong peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat agar kelompok ini dapat terus berkembang dan mandiri,” ujar Gumelar Ardhi Buana, SPV I HSSE PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Medan.

Bagi Syahrizal, dukungan itu bukan sekadar tambahan fasilitas produksi. Ada kesempatan untuk memperluas pengetahuan, memperbaiki proses kerja, dan melihat kemungkinan baru dari usaha yang selama ini mereka bangun dengan kemampuan terbatas.

“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Medan yang sudah membersamai kami, memberikan berbagai alat dan ilmu yang sangat kami butuhkan. Kini kami sudah bisa berkembang dengan beragam produk yang siap bersaing di pasar,” ungkap Syahrizal di hadapan peserta kunjungan media Pertamina pada 10 Oktober 2026.

Pernyataan itu menggambarkan arti penting pendampingan bagi kelompok masyarakat yang tengah merintis usaha. Bantuan peralatan dapat memperkuat kemampuan produksi, tetapi pengetahuan dan keterampilan juga dibutuhkan agar usaha mampu bertahan. Bagi PEMANAH, dukungan tersebut menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh dari sekadar mengolah limbah menjadi bahan pakan.

Perubahan itu terlihat dari cara kelompok PEMANAH menangani kulit udang. Bahan yang sebelumnya dibuang dan berpotensi menimbulkan bau kini diolah melalui sejumlah tahapan agar lebih mudah dimanfaatkan. Prosesnya dimulai dengan mengongseng kulit udang hingga kondisinya agak kering. Setelah itu, kulit udang dijemur untuk mengurangi kadar air sebelum memasuki tahap penggilingan.

Kulit udang yang telah dikeringkan kemudian digiling menggunakan mesin penggiling yang diberikan melalui dukungan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Medan. Kehadiran peralatan tersebut membantu kelompok mengolah bahan baku menjadi lebih halus sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar berbagai produk.

Tahapan ini menjadi bagian penting dalam upaya mereka mengurangi persoalan limbah sekaligus menciptakan nilai tambah. Kulit udang yang sebelumnya hanya menjadi sisa aktivitas pengupasan kini memiliki peluang untuk diolah menjadi tepung kulit udang, pelet ikan, hingga bahan pakan ikan.

Bagi Syahrizal dan sembilan rekannya, proses tersebut bukan sekadar mengubah bentuk bahan baku. Mereka sedang membangun cara baru dalam memandang potensi yang tersedia di lingkungan sendiri. Sesuatu yang dahulu dianggap tidak berguna kini dapat masuk kembali ke dalam rantai produksi dan membuka peluang usaha bagi masyarakat pesisir.

Dukungan peralatan dari Pertamina turut membantu kelompok menjalankan proses pengolahan dengan lebih baik. Namun, keberlanjutan usaha tetap bergantung pada kemampuan mereka menjaga kualitas bahan baku, menerapkan proses pengeringan yang memadai, serta memastikan produk yang dihasilkan aman dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Dengan pengolahan yang tepat, kulit udang tidak harus berakhir sebagai limbah. Bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya alternatif, sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi masyarakat yang lebih beragam. Di Pekan Labuhan, langkah sederhana dari mengongseng, menjemur, hingga menggiling kulit udang menjadi gambaran bagaimana kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan tumbuhnya peluang ekonomi.

Seiring berjalannya waktu, pengembangan usaha mulai diarahkan pada pemanfaatan kulit udang sebagai bahan baku tepung yang dapat digunakan dalam rantai produksi pakan. Kulit udang yang sebelumnya berakhir sebagai limbah kini memiliki peluang untuk masuk kembali ke dalam proses produksi dan memberikan nilai tambah.

Program PELARI mendorong pengolahan kulit udang menjadi tepung, yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan pakan dalam budidaya ikan nila dengan sistem bioflok. Pendekatan ini menghubungkan dua kegiatan yang saling mendukung, yakni pengolahan limbah dan budidaya perikanan.

Melalui proses tersebut, program mencatat potensi pengolahan sekitar 100 kilogram tepung kulit udang setiap bulannya dari setiap satu ton limbah kulit udang. Angka ini menunjukkan adanya peluang pemanfaatan bahan yang sebelumnya terbuang. Meski demikian, pengembangan usaha tetap membutuhkan proses berkelanjutan, mulai dari menjaga mutu produk hingga memastikan ketersediaan bahan baku dan peluang pemasarannya.

Di sinilah nilai penting PELARI tidak hanya terletak pada upaya mengurangi limbah, tetapi juga pada kemampuannya membuka ruang belajar dan mengembangkan kapasitas masyarakat. Warga tidak sekadar diajak membersihkan lingkungan, melainkan didorong untuk mengenali potensi sumber daya di sekitarnya dan mengolahnya menjadi kegiatan produktif.

Bagi kelompok PEMANAH, perjalanan itu menunjukkan bahwa sebuah usaha dapat tumbuh ketika kemauan masyarakat bertemu dengan akses pengetahuan, peralatan, dan pendampingan yang sesuai kebutuhan. Tantangan tentu belum sepenuhnya berakhir. Keberlanjutan produksi, konsistensi kualitas, serta perluasan pasar tetap menjadi pekerjaan yang harus dijalani secara bertahap.

Namun, perubahan cara pandang telah menjadi modal penting. Kulit udang tidak lagi semata-mata dilihat sebagai sisa yang mengotori lingkungan. Bahan tersebut mulai dipahami sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan, selama pengolahannya dilakukan dengan tepat dan memiliki nilai ekonomi yang jelas.

Pada akhirnya, cerita Syahrizal dan kelompok PEMANAH bukan hanya tentang tepung kulit udang atau bahan pakan ikan. Cerita ini juga berbicara tentang keberanian masyarakat pesisir untuk mencoba, bertahan ketika menghadapi keterbatasan, dan menemukan peluang di tengah persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Perjalanan Syahrizal dan kelompok PEMANAH memang belum sampai pada titik ketika produk mereka mampu bersaing di pasar yang lebih luas, berhadapan dengan merek-merek besar yang telah lebih dahulu dikenal dan memiliki jaringan pemasaran kuat. Namun, keterbatasan itu tidak membuat mereka berhenti melangkah. Mereka menyadari bahwa untuk menjangkau lebih banyak konsumen, masih ada sejumlah hal yang perlu disempurnakan, mulai dari kualitas produk, konsistensi produksi, hingga kemasan yang lebih menarik dan memenuhi kebutuhan pasar.

Melihat tantangan tersebut, keberlanjutan program menjadi perhatian penting agar upaya pemberdayaan tidak berhenti pada tahap produksi. Pengembangan kualitas dan kemampuan pemasaran diperlukan supaya produk yang dihasilkan memiliki peluang lebih besar untuk diterima konsumen.

“Kami memahami bahwa membangun usaha tidak bisa dilakukan secara instan. Kualitas produk, kemasan, kapasitas produksi, dan pemasaran perlu terus dikembangkan agar produk masyarakat dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Harapan kami, program ini tidak berhenti pada pengolahan limbah, tetapi mampu memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan pesisir,” ungkap Gumelar.

Sembari terus berbenah, mereka memilih memulai dari lingkungan terdekat. Produk-produk yang dihasilkan dipasarkan secara bertahap melalui jaringan pertemanan dan masyarakat sekitar. Dari satu orang ke orang lain, upaya kecil itu menjadi jalan bagi mereka untuk memperkenalkan hasil olahan sekaligus membangun kepercayaan konsumen. Meski jangkauannya belum luas, penerimaan masyarakat sekitar menjadi modal awal untuk menjaga usaha tetap berjalan dan memberikan tambahan pemasukan bagi kelompok.

Bagi Syahrizal dan sembilan rekannya, keberhasilan tidak harus selalu dimulai dari pasar yang besar. Ada proses panjang yang perlu dilalui, mulai dari memperbaiki mutu, mengenalkan produk, hingga meyakinkan konsumen bahwa hasil olahan mereka layak digunakan. Setiap penjualan menjadi pengalaman, sementara setiap masukan membuka kesempatan untuk memperbaiki kekurangan.

Di Pekan Labuhan, tumpukan kulit udang yang dahulu identik dengan limbah kini menyimpan arti berbeda. Dari tangan-tangan yang mau belajar dan bertahan, sisa hasil laut itu perlahan menemukan nilai baru. Jalan mereka untuk menembus pasar yang lebih luas memang masih panjang, tetapi langkah kecil yang terus dijaga telah memberi arti bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi kelompok.

Sebab, harapan tidak selalu tumbuh dari usaha yang langsung besar atau produk yang segera menguasai pasar. Terkadang, harapan justru berawal dari keberanian mengolah sesuatu yang terbuang, menjual hasilnya kepada orang-orang terdekat, lalu terus memperbaiki diri agar suatu hari mampu melangkah lebih jauh. Bagi Syahrizal dan kelompok PEMANAH, perjalanan itu masih berlangsung dalam menjaga pesisir, merintis usaha, dan merawat keyakinan bahwa dari tumpukan kulit udang pun, masa depan yang lebih baik dapat mulai dibangun.

Melalui PELARI, PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Medan berupaya mempertemukan kepedulian terhadap lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada jumlah limbah yang diolah atau peralatan yang diberikan, tetapi juga pada kemampuan kelompok untuk terus berproduksi, mengembangkan keterampilan, dan membangun usaha secara mandiri.

Di Pekan Labuhan, harapan itu tumbuh dari sesuatu yang dahulu dianggap tidak berguna. Tumpukan kulit udang yang menyimpan persoalan lingkungan kini membuka kemungkinan baru bagi warga untuk menciptakan nilai tambah. Perjalanannya masih panjang, tetapi langkah yang dirintis Syahrizal dan rekan-rekannya memperlihatkan bahwa perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat, dari keberanian melihat peluang, dan dari kemauan untuk mengolah persoalan menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik.**

Share
Berita Terkait
  • satu jam lalu

    Hitachi Construction Machinery Meluncurkan Kampanye Merek Global Terbaru Menjelang Perubahan Nama Perusahaan dan Merek Menjadi "LANDCROS" pada April 2027

    Di saat yang sama, seiring makin beragam dan kompleksnya tantangan yang dihadapi para pelanggan di lokasi kerja mereka, peran yang diharapkan dari kami pun turut berubah secara sig
  • 4 minggu lalu

    Ketika AI Menghidupkan Harapan dari Sumur Tua

    Hingga kini, VENUS menjadi salah satu andalan PHR dalam mengevaluasi potensi minyak dari ribuan sumur tua di wilayah operasi Riau. Teknologi ini membantu para perwira menelusuri ke
  • 20 jam lalu

    Dukung GenoHack, Menaker Harap Anak Muda Berinovasi Ciptakan Lapangan Kerja

    Yassierli mengapresiasi acara ini sebagai wadah bagi anak muda mengembangkan gagasan menjadi solusi. Ia berharap kegiatan serupa diperluas ke lebih banyak perguruan tinggi agar leb
  • 20 jam lalu

    OPPO Reaches the Next Level of Making with Find X10 Series

    Behind these capabilities is a global computing infrastructure designed to ensure consistent, reliable AI performance for OPPO users around the world. OPPO operates nine Internet D
  • Komentar
    Copyright © 2026 . All Rights Reserved.